Senin, 24 Desember 2012

Aliran Asy'ariyyah



Sejarah Berdirinya Asy'ariyah

Aliran Asy’ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada pendirinya, yaitu Abul Hasan Ali Ibn Isma'il Al-Asy'ari yang lahir di Basrah pada tahun 873 Masehi dan wafat pada tahun 935 Masehi. Beliau masih keturunan Abu Musa Al-Asy'ari , seorang duta perantara dalam perseteruan tim Ali dan Mu'awiyah. Sejak kecil beliau berguru pada syech Al-Jubba'i seorang tokoh mu'tazilah yang sangat terkenal.
 Ia adalah murid yang cerdas dan ia menjadi kebanggaan gurunya dan seringkali ia mewakili gurunya untuk acara bedah ilmu dan diskusi. Dengan ilmu ke-mu'tazilahannya, ia gencar menyebar luaskan paham mu'tazilah dengan karya-karya tulisnya.

Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan akidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal. Al-Asy'ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau kembangkan merupakan penggabungan antara dalil naqli dan aqli. 

Setelah Al-Asy'ari keluar dari golongan Mu'tazilah, beliau menyusun teologi baru yang sesuai dengan aliran orang yang berpegang kuat pada hadits. Karena adanya ketidak cocokan paham dengan gurunya (Abu Hasyim al-Juba’i) dan ketidak puasannya terhadap aliran Mu'tazilah, sehingga menimbulkan perasaan syak (ragu-ragu) yang mendorong Al-Asy'ari untuk meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan membentuk teologi baru setelah puluhan tahun ia menjadi penganut setia aliran Mu'tazilah.

Menurut Ahmad Mahmud Subhi, keraguan itu timbul karena ia menganut madzhab Syafi'i yang memiliki pendapat berbeda dengan aliran Mu'tazilah, misalnya syafi'i berpendapat bahwa Al-Qur'an itu tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim dan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat nanti. Sedangkan menurut paham Mu'tazilah, bahwa Al-Qur'an itu bukan qadim akan tetapi hadits dalam arti baru dan diciptakan Tuhan dan Tuhan bersifat rohani dan tidak dapat dilihat dengan mata.

Menurut Hammudah Ghurabah, diantara sebab-sebab keluarnya asy’ari dari golongan mu’tazilah adalah, karena ajaran-ajaran yang diperoleh dari Al-Juba'i, menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak mendapat solusi yang memuaskan, misalnya tentang mukmin, kafir dan anak kecil

Sebab lain adalah adanya perpecahan yang dialami kaum muslimin yang bis a menghancurkan mereka kalau tidak segera diakhiri. Sebagai seorang muslim yang sangat peduli dengan kaum muslimin ia sangat menghawatirkan al-Quran dan hadits menjadi korban paham-paham kaum mu'tazilah, yang menurut pendapatnya tidak dapat dibenarkan, karena didasarkan pada pemujaan akal-pikiran., sebagai mana juga dikhawatirkan menjadi korban sikap anggota hadits anthropomorphosist yang hanya memegangi nas-nas dengan meninggalkan jiwanya dan hamper-hampir menyeret islam kepada kelemahan kekuatan yang tidak dapat dibenarkan agama, karenanya Al-Asy'ary mengambil jalan tengah antara golongan yang rasionalis dan kaum textualis yang ternyata jalan tersebut dapat diterima oleh mayoritas kaum muslim.

Pokok-Pokok Pemikiran Imam Asy’ari

Pokok pemikiran abu hasan al-asy’ari yaitu,
  1. Membenarkan teori Mu‘tazilah tentang berbagai istilah dalam al-Quran seperti Yadullâh, Wajhulâh dan lain-lain, yang menurutnya tidak harus digambarkan bahwa Allah memiliki tangan dan wajah.
  2. Menentang Mu‘tazilah yang berpendapat bahwa al-Quran adalah mahluq. Al-Asy‘ari sendiri dengan lantang menegaskan kalau kalamullah itu qadîm. Dengan menyodorkan dalil naqlî dan ‘aqlî dalam kitabnya, al-Luma‘ fîr-Radd ‘alâ Ahliz-Ziyâgh wal-bida‘ dan al-Ibânah ‘an Ushûlid-Diyânah.
  3. Menentang Mu‘tazilah yang berpandangan bahwa manusia bebas melakukan perbuatan yang diinginkannya (Jabariah/Fatalisme). Sedangkan menurutnya, semua perbuatan baik dan buruk bergantung kepada kehendak Allah yang menciptakan semua perbuatan hamba-Nya.
  4. Menentang Mu‘tazilah yang berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar tidak lagi mukmin dan juga bukan orang kafir. Menurut al-Asy‘ari, ia berada di tengah-tengah antara keduanya. Artinya, Ia tetap muslim tapi diancam dengan siksa neraka.
  5. Dalam pandangan al-Asy‘ari, akal tidak memiliki kedudukan seperti yang diyakini Mu‘tazilah. Kelompok ini berpendapat bahwa kekuatan akal sanggup membedakan antara hal yang baik dan yang buruk. Sedangkan menurutnya, wahyu adalah satu-satunya perangkat untuk mengetahui Allah dan syariat-Nya. Akal hanya berguna untuk mengetahui saja, tidak lebih.
Tokoh-Tokoh Aliran Asy’ariyah

Diantara pemuka al-Asy'ariyyah yang terkenal selain Asy'ary adalah Abu Bakar al-Baqillani (wafat 1013), imam al-Haramain al juwainy (wafat 1085), dan Abu Hamid al-Ghazali (wafat 1111).

- Al-Baqilany (wafat 403 H / 1013 M)

Namanya Al Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Tayyib bin Muhammad bin Ja'far al-Baqilani , diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, Al-Asy'ar i . Ia seorang yang cerdas otakya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Ia sebagai ulama terkemuka dalam madzhab al-Asy'ari, penyandang julukan Saif al-Sunnah (Pedang al Sunnah), lisan Ummah (Juru Bicara Umat) .Kitabnya yang terkenal adalah "at-Tahmid", dia belajar ilmu kalam kepada al Imam Ibnu Mujahid, murid al Imam al Asy'ari. Al Baqilani selain dikenal sebagai ulama terkemuka dalam bidang teologi dan ushul fiqih, juga dikenal dengan kecerdasannya dan daya ingatnya yang sangat kuat terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya. Abu Bakar al-Khuwarazmi berkata; "Setiap penulis kitab di Bangdad, biasanya mengakses karangan-karangan kitab orang lain ke dalam kitabnya, kecuali al-Baqilani yang tidak pernah mengakses kitab-kitab orang lain dalam menyusun karangannya, karena dadannya merekam ilmu sendiri dan ilmu -ilmu orang lain. "

Dalam bidang teologi, keahlian al-Baqilani telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama. Al-Hafizh Ibnu Asakir mengakui bahwa al-Baqilani adalah ulama yang paling menguasai terhadap ilmu kalam, paling baik gagasannya, paling bagus paparannya, paling lugas penjelasannya dan paling tepat uraiannya. Bahkan menurut al-Dzahabi, al-Baqilani adalah pakar teolog terbaik dan pakar usul fiqih terdepan.

Selain itu al-Baqilani juga seorang ulama yang sangat wara ', zuhud, religius dan sealalu menjaga dirinya dari perbuatann yang tercela. Abu Hatim al-Qazwini mengatakan, bahwa sifat wara ', zuhud, religius dan sifat kepribadian al-Baqilani dalam menjaga diri yang disembunyikannya dari orang lain, lebih besar dari yang ditampakkannya. Pujian terhadap al-baqilani tidak hanya mengalir dari pengikut madzhab al-Syafi'i da maliki, sebagai manyoritas pengikut madzhab al-Asy'ari. Bahkan pujian terhadapnya juga mengalir dari tokoh-tokoh pengikut madzhab Hanbali, seperti abu al-hasan al-Tamimi al-Hanbali yang berkata kepada murid-murid al-baqilani, "ikutilah laki-laki itu, karena sunnah pasti membutuhkan ilmunya"

Al-Baqilani   wafat di Bagdad pada tahun 403 H/1013 M. dia wafat dengan meninggalkan murid-murid yang secara intens menyebarkan madzhab al-Asy'ari di Hijaz, Khurasan, Irak dan lain-lain. Dia juga meninggalkan banyak karya di bidang teologi dan ushul fiqih antara lain; I'jazul-Qur'an, al-Inshaf, Manaqib al-A'immah, Daqa'iq al-Kalam, al-Milal wan-Nihal, Hidayatul Mustarsyidin, al-Istibshar, Tamhid al Dalail, al-Bayan 'an al-Farq bayna al-Mu'jizah wa al-Karamah, Kasyf Asrar al-Batiniyyah, al Tamhid fi al-Radd' Ala al-Muhidah wa al- Mu'aththilah wa al-Khawarij wa al-Mu'tazilah dan lain-lain.

- Imam al-Haramain Al-Juwaini (419-478 H / 1028-1085 M)

Namanya Ruknuddin Abul-Ma'ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Juwaini, dilahirkan di Nisabur, kemudian pergi ke kota Mu'askar, dan akhirnya sampai ke negara Bagdad terus pindah ke tanah Hijaz dan bertempat tinggal di Mekkah dan Madinah untuk mengajarkan pelajaran disana. Karena itu ia mendapat gelar "Imam Al-Haramain" (Imam kedua tanah suci, Makkah dan Madinah) setelah Nidzamul Mulk memegang pemerintahan dan mendirikan sekolah Nizamiyah di Nisabur al-Juwaini diminta kembali ke negerinya tersebut untuk memberikan pelajaran disana.

Dalam madzhab al-Syafafi'i, dia menyandang gelar al-Imam, dengan kekayaan materi keilmuan yang dimilikinya dan keahlian yang menabjubkan dalam berbagai studi keilmuan seperti ushul fiqih, teologi, fiqih, tafsir, satra, grametika dan lain-lain. Imam Haramain juga dikenal memiliki kemampuan rertorika yang hebat dalam menampilkan. Dalam sehari, dia mempu mengajarkan beberapa pelajaran, masing-masing mata pelajaran saat ditulis terdiri dari berlembar-lambar halaman, dan anehnya dia pun mampu menyampaikan semua materinya dengan lancer tanpa pernah mengalami kegagapan dan kekeliruan dalam berbicara. 

Pada masa kecilnya, dia belajar kepada ayahnya, al-Imam Abu Muhammad al-Juwaini, pakar fiqih al-Syafi'i terkemuka pada masanya. Ayahnya mengagumi karakter imam al-Haramain, yang sangat tekun dan gigih dalam belajar, serta memiliki kecerdasan yang istimewa, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, ia telah menguasahi semua karya ayahnya, dan bahkan lebih teliti dan menguasai terhadap ilmu fiqih dari pada ayahnya. Ayahnya meninggal pada saat usia imam al-Haramain belum genap dua puluh tahun.

Setelah ayahnya meninggal, dia menggantikannya mengajar murid-murid ayahnya, sambil melanjutkan belajarnya kepada al-Imam Abu al-Qasim al-Iskafi al-Asfarayini di akademi yang didirikan oleh al-Imam al-Baihaqi dalam bidang ushul fiqih, kemudan dia berkelana ke Baghdad , dan menemukan banyak ulama disana. Lalu hijaz dan bermukim di Mekkah selama empat tahun, dengan aktifitas mengajar, berfatwa dan menghimpun riwayat-riwayat madzhab al-Syafi'i, sehingga ia menyandang gelar imam al-Haramain.

Imam al-Haramain termasuk ulama yang produktif, karyanya terkenal sejak beliau masih hidup, dan menjadi materi kaum pelajar dari berbagai madzhab. Karya-karyanya banyak dicurahkan dalam bidang teologi, ushul fiqih dan fiqih. Karya-karyanya dalam bidang teologi diantaranya; al-Irsyad ila Qawathi'il Adillah fi Ushulil-I'tiqad, as-Syamil fi Ushulil-Din, Luma'ul-Adillah dan al-Aqidah al-Nidzamiyyah yang populer dengan nama al-Nidzami. Dalam bidang fiqih ia menulis Nihayatul-Mathlab fi dirayatil-Madzhab, Ghiyatsul-Umam fi Iltiyatsil-Dzulam yang populer dengan nama al-Ghiyatsi, dan lain-lain.

- Al-Ghazali (450-504 H)

Nama lengkapnya al-Imam Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali al-Thusi. Dilahirkan di kota Tus, sebuah kota di negeri Khurasan. Gurunya antara lain Al-Juwaini, sedang jabatan yang pernah dipegagnya adalah mengajar di sekolah Nizamiyah Bagdad. Dia dikenal al-ghozali karena ayahnya bekerja sebagai pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Dan dia lahir dari keluarga yang agamis dan menjalani kehidupan sufi. 

Al-Ghazali adalah salah seorang ahli pikir Islam terkenal dan yang paling besar pengaruhnya.Kegiatan ilmiyahnya meliputi berbagai lapangan, antara lain logika, jadal (ilmu berdebat), fiqh dan ushulnya, ilmu kalam, filsafat dan tasawuf. Kitab-kitab yang dikarangnya banyak sekali, berbahasa Arab dan Persi.

Peringkat Al-Ghazali dalam aliran Asy'ariyyah sangat penting, karena ia telah meninjau semua persoalan yang pernah ada dan memberikan pendapat-pendapatnya yang hingga kini masih dipegangi Ulam-ulama Islam, yang karenanya ia mendapatkan julukan "Hujjatul Islam". Di daerah kelahirannya, al-Ghozli yang menyandang gelar Hujjatul Islam meninggal dengan tenang pada hari senin 14 Jumadil Akhir 505 H dan jasadnya dimakamkan di Thabaran.

Al-Ghozali termasuk salah satu ulama yang produktif, dia telah meninggalkan karya tulis yang sangat banyak meliputi berbagai studi keislaman. Menurut al-Hafizh al-Zabidi, komentator Ihya 'Ulum al-Din , karya al-Ghozali mencapai sekitar 80 judul, baik dalam bentuk kitab besar maupun dalam bentuk risalah kecil.   Sementara sebagaian ahli, ada yang mengatakan bahwa karya al-Ghozali mencapai 400 judul. Karya terbesarnya adalah; al-Munqidz Minad-Dlalal, Ihya 'ulumid-din dan Tahafutul-Falasifah.

Perkembangan Pemikiran Teologi Asy’ariah

Pemikiran-pemikiran imam al-Asy’ari, seperti yang terlihat dalam contoh di atas, merupakan jalan tengah antara golongan-golongan yang berlawanan, atau antara aliran rasionalis dan textualis. Dalam mengemukakan dalil dan alasan, ia juga memakai dalil-dalil akal dan naqal bersama-sama. Sesudah ia mempercayai isi al-Quran dan hadits, ia mencari alasan-alasan dari akal pikiran untuk memperkuatnya. Jadi ia tidak menganggap akal pikiran sebagai hakim atas nas-nas agama untuk mena’wilkan dan melampaui ketentuan arti lahirnya, melainkan dianggapnya sebagai pelayan dan penguatan arti lahir nas tersebut.

Aliran ini sepeninggal pendirinya sendiri mengalami perkembangan dan perobahan yang cepat, karena pada akhirnya perbedaan paradigma dalam melihat berbagai persoalan dalam bangunan teologi asy’ariyah telah mengakibatkan terjadinya perbedaan pendapat antara tokoh-tokoh pentingnya yang datang dikemudian hari. Al-baqillani misalnya, ketika membahas masalah al-kasab berpendapat, bahwa manusia mempunyai sumbangan yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Gerak dalam diri manusia memang ciptaan tuhan, tetapi bentuk atau sifat dari gerak itu dihasilkan oleh manusia sendiri. Gerak sebagai genus (jenis) adalah ciptaan tuhan, tetapi duduk, berdiri, berbaring dan sebagainya merupakan spesies (new) dari gerak adalah hasil perolehan manusia.

Al-junaidi yang lebih dikenal dengan imam al-haramain, seorang pemikir asy’ariyah penting lainnya, berpendapat bahwa daya yang ada pada manusia mempunyai efek seperti yang terdapat dalam sebab dan musabbab (kausalitas). Wujud perbuatan manusia tergantung pada daya yang ada pada manusia. Wujud daya tergantung pula pada sebab lain dan oleh karenanya, daya tergantung pada sebab itu, Sebagaimana perbuatan tergantung pada daya. Begitulah seterusnya.

Sementara al-ghazali berpendapat, bahwa perbuatan manusia itu nyata, namun dihasilkan dari dua daya. Yaitu daya yang berasal dari tuhan dan daya yang berasal dari manusia sendiri yang nota bene juga diciptakan tuhan.

Produk-produk pemikiran asy’ariyah lain, nampaknya tidak begitu banyak diperdebatkan oleh penerus penerus, misalnya tuhan dapat dilihat diahirat nanti, menurutnya sesuatu yang ada dapat dilihat dan penyebab yang membenarkan penglihatan itu adalah sesuatu yang ada dapat dilihat dan penyebaab yang membenarkan penglihatan itu, adalah sesuatu yang ada, namun penglihatan itu tidak dapat diartikan menunggu (nadhirah), seperti pemahaman muktazilah. Yang tertutup matanya untuk melihat allah hanyalah orang orang kafir. Paham tentang penglihatan ini, mendapat pembenaran (justification) dari beberapa riwayat yang berasal dari nabi, misalnya dari sebuah hadits yang menngatakan “ kamu sekalian akan melihat tuhanmu dengan nyata, bagaimana melihat bulan di malam purnama, tanpa sedikitpun berbahaya bagimu.

Bagi Asy’ari, iman merupakan pembenaran dalam hati (bil-qolb) sedangkan pengejawantahannya dengan ucapan (bil qoul) dan perbuatan (bil arkan) melakukan cabangnya dalam memandang pelaku dosa, asy’ari berpendapat, bahwa pelakuan dosa penentuan besar hukumnya diserahkan kepada kekuatan allah, apakah diampuni dengan kasih sayangnya atau di beri syafaat nabi. “ syafaatku bagi pelaku dosa besar dan segenap umatku”. Pelaku dosa besar tidak selamanya menetap dineraka, karena didalam dirinya masih terdapat iman.

Seandainya semua manusia dimasukkan ke syurga, tudak berarti dia salah, atau bila semua manusia dimasukkan keneraka, bukan berarti tuhan berbuat aniaya. Bukankah aniaya adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya? Allah penguasa mutlaq, tiada tercermin dalam dirinya kedzaliman dan tiada pula pada dirinya melekat kesalahan.

Segala kewajiban dapat diketahui dengan wahyu, sebab akal tidak dapat mewajibkan sesuatu, tidak juga menilai sesuatu baik atau buruk. Mengetahui allah dapat dicapai dengan akal, dan mengetahui wajib dengan wahyu. Firman allah : “ dan kami tidak mengazab (suatu kaum) hingga kami mengutus seorang rasul”. Begitu pula perkara mensyukuri rahmat, pahala orang taat, balasan maksiat dan sebagainya, semua itu hanya dapat diketahui melalui wahyu. Segala jenis kewajiban (taklif) mengandung esensi manfaat. Allah kuasa member pahala dan siksa dan merupakan keutamaan allah. Sedang adzab dan ganjaran merupakan keadilannya. Firman allah : “dia (allah) tidak akan ditanya apa yang diperbuatnya, sedangkan mereka ditanya apa-apa yang mereka kerjakan”.

Diutusnya para rasul merupakan perkara jaiz, tidak wajib dan tidak pula mustahil. Namun setelah diutusnya para rasul, wajib dikuatkan dengan mukjizat dan pelindungnya dari kesalahan. Sebab, para penerima seruan harus mengetahui kebenaran penyerunya. Karamah bagi wali benar adanya, karena hal itu merupakan pembenaran para nabi, sebagai data dalam memperkuat mukjizat.

Iman dan taat adalah taufiq dari allah, sedangkan kufur dan maksiat adalah kehinaan dari-nya. Taufiq bagi asy’ari adalah daya yang diciptakan untuk taat. Sebaliknya, kehinaan merupakan daya yang diciptakan untuk maksiat. Apapun yang didengar dari wahyu, seperti al qalam, lauh, arsy dan kursy wajib diimani apa adanya. Sebagaimana pemberitaan wahyu tentang pertanyaan di alam kubur, pahala, siksa, timbangan, jembatan, syurga dan neraka, semuanya wajib diimani apa adanya.

Pandangan asy’ari tentang imamah, ditetapkan berdasarkan ketetapandan pemilihan, tanpa ada penjelasan dari nash dan ketetapan syar’i. kesepakatan yang pernah dibuat umat untuk memilih abubakar, umar, utsman dan ali dilakukan setelah melalui proses musyawarah. Dalam pandangan asy’ari, urutan mereka dalam keutamaan, sebagaimana urutan mereka dalam imamah. Sedangkan mengenai aisyah, talhah dan zubairyang melawan khalifah ali bin abu tholib dalam perang onta. Dianggap hanya berbuat salah. Thalhah dan zubair termasuk diantara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk syurga. Adapun muawwiyah dan amr ibnu ash disebut sebagai pembangkang terhadap pemimpin yang syah. Oleh karena itu mereka diperangi dan dipososokan sebagai pembangkang (bughat).

Penyebaran Teologi Asy’ariyah ke Berbagai Wilayah Islam

Dalam periode antara tahun 320 – 447 H, keluarga buwaihi dan kota dalam dekat khurasan memperoleh pengakuan kekuasaan dari pusat kekuasaan islam di Baghdad yang ketika itu dipimpin khalifah al-mustakfi (334 H). mereka menyokong kelompok syiahdan menghidupkan panji panjinya serta merendahkan wibawa orang orang turki. Hal ini menjadikan kelompok muktazilah kembali menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Hal itu terjadi karena antara paham syi’ah dan muktazilah mempunyai doktrin dalam beberapa hal yang sama atau memiliki kedekatan.

Pada tahun 1055 M/447 H, thurghi bek dari dinasti saljuk memasuki Baghdad dari jabal atas permintaan khalifah al-qalm dari bani abbas untuk menumpas despotism (kesewenang-wenangan) al-malik al-rahim, amir al-umara bani buwaihi yang terahir, dengan demikian, berahirlah kekuasaan bani buwaihi dan bermulalah kekuasaan bani saljuk. Pengertian kekuasaan ini juga menandakan awal periode keempat khilafah abasiyah. Meskipun kekuasaan telah berganti, muktazilah tetap jaya.
Sepeninggal thughril bek. Dinasti saljuk diperintah oleh alp arselan (455 – 465 H) dan malikiyah (465 – 485 H). pada kurun ini, orang orang sunni mulai memperoleh kesempatan lagi untuk berkembang. Malikiyah ketika ketika itu dibantu oleh perdana mentrinya nizham al mulk. Atas bantuan ini, malikiyah berhasil memprakarsai pendirian universitas nizhamiyah di tahun 1065 M. dan madrasah hanafiyah di Baghdad yang hanya mengajarkan madzhab asy’ariyah serta bergabungnya beberapa tokoh penting aliran ini dikedua perguruan tinggi itu. Seperti al-ghazali dan al-juwaini.

Sementara itu di mesir dan maroko, pengaruh aliran syi’ah yang dianut oleh dinasti fatimiyah (297 – 567 H) sangat kuat. Sehingga kelompok sunni memperoleh tekanan berat yang tidak memunginkannya untuk berkembang, penguasa syiah mendirikan universitas al-atieq (al-jamiyah al-amru) dan universitas al azhar di mesir. Di dalam universitas tersebut di ajarkan fiqih syi’ah yang disusun oleh ya’qub ibn kais. Perdana mentri aziz billah fatimiy. Merekapun memburu dan menyiksa orang orang sunni yang memiliki dan mempelajari buku al-muwatha’ yang dikarang oleh imam malik dan memamerkannya keliling kota kairo. Supremasi daulat Fatimah di mesir akhirnya dijatuhkan oleh dinasti salahuddin al ayubi ditahun 1174 M. dengan datangnya dinasti ini, aliran sunni kemudian masuk kembali kemesir, aliran syiah disana hilang bersama dengan tumbuhnya dinasti fatimiyah. Sallahuddin dikenal sebagai sultan yang banyak membela islam, terutama pada saat pecahnya perang salib.

Sementara diandalusia dan maroko (arfika utara) aliran sunni di kembangkan oleh seorang ulama’ yang banyak digaruhi pemikiran al-ghazali, yaitu Muhammad ibnu tamart (1080 – 1130 M) setelah ia menghancurkan dinasti al murabithun ((1085 – 1090 M) yang menganut paham antromorfhisme, kemudian ibnu tumart mendirikan dinasti al-muwahhidin (1130 – 1269 M) di wilayah timur, paham asy’ariyah turut dikembangkan oleh raja raja afghan yang pernah menguasai Persia, yaitu dinasti qanjar (1386 – 1925 M ) selain itu Muhammad al-ghaznawi dari dinasti ghaznawiyah (962 – 1189 M) yang berpusat di afganistan (khurasan) juga berjasa dalam menyebarkan paham asy’ariyah ke beberapa wilayah di sekitarnya, seperti Punjab dan irak.

Sejarah umat islam mencatat, bahwa aliran asy’ariyah mempunyai kejayaan terlama dan berlangsung hingga sekarang. Hal ini disebabkan oleh banyak factor. Menurut Dr. harun nasution factor yang terpenting adalah kebiasaan rakyat mengikuti madzhab yang dipakai dinasti penguasa. Di satu pihak pemerintah mempunyai andil dalam pengembangan aliran ini terutama untuk memenuhi watak dan keadaan masyarakat. Sementara dilain pihak, untuk mengimpuk kesetiaan rakyat, penguasa menggunakan doktrin asy’ariyah yang berkecenderungan jabariyah (fatalistic), sehingga daya kritis umat ierhadap penguasa dalam hal kebijakan dan perilaku rezim kurang tajam, bukan cenderung memberikan kelonggaran dan toleransi terhadap penguasa. Factor penguasa lainnya adalah disejajarkannya aliran teologi asy’ariyah dengan madzhab fiqih syafi’i. hal ini menjadikan aliran teologi asyariyah identik dengan aswaja, sehingga wibawa para ulama’ syafi’iyah ikut menjadi daya tarik tersendiri, terutama pada masyarakat tradisional.

0 komentar:

Poskan Komentar